Sebuah Energi dari Keikhlasan

December 20th, 2008 by enra

Pengetahuan fisika klasik menyatakan setiap benda yang kita lihat tersusun dari molekul, sedangkan molekul terdiri dari atom-atom. dan atompun dibentuk oleh partikel partikel, dan ternyata dalam ilmu fisika modern atu yang dikenal dengan fisika Quantum menemukan partikel pun masih dibentuk oleh sesuatu yang bernama Quanta... quanta adalah “bahan baku” semua benda yang ada di alam ini; semua makhluk, semua planet, semua mikroorganisme, seberapa pun besar dan kecilnya ..  Quanta berupa getaran-getaran energi terhalus yang “tak tampak”, dan ternyata pada level yang semakin dalam dan halus energi yang dikandungnya semakin besar, saat ini dinyatakan energi yang paling dahsyat dalam fisika kuantum adalah energi nuklir….

Pengetahuan diatas lah yang menginspirasi Erne Sentanu memunculkan sebuah pemahaman tentang energi dalam diri manusia yang tidak hanya menyentuh dimensi kognitif berupa positive thinking tapi lebih halus lagi masuk kedalam dimensi hati berupa positive feeling. Suatu energi yang dimunculkan dari keikhlasan..

dan keikhlasan pun dipahami menjadi suatu energi yang super dahsyat dalam menghadapi segala kekompleksitasan dunia yang tampak dalam wilayah akal… sebagaimana halnya dengan Quanta. keikhlasan adalah sesuatu yang tidak tampak dengan kasat mata tapi ia ada dalam jiwa. sesuatu yang tidak mampu diuraikan dengan pikiran tapi ia dapat dirasakan dengan Hati

” Ikhlas adalah rahasia Allah dan hambanya” begitu kata hadits…

Muncul pertanyaan bagaimana agar diri ini mampu mengeluarkan energi dari sebuah keikhlasan, sebuah energi otomatis, muncul dari alam bawah sadar…?

(saya sarankan untuk baca bukunya Erbe Sentanu yang judulnya Quantum Ikhlas, bagi yang belum baca dan bukan promote,, tapi karena saya juga lagi baca… jadi lagi mempelajari juga)

Cerita Mudik…

October 14th, 2008 by enra

Mudik lebaran,

Saya yakin Istilah ini familiar bagi masyarakat urban, sebuah tradisi setiap tahun diakhir ramadhan menjelang idul fitri, mayoritas masyarakat perkotaan menjadikan momentunm istimewa dan saat yang ditunggu bersama kelurga..

Saya sendiri sejak merantau ke kota “kembang “  tahun 2000,  menjalani tradisi mudik hampir setiap tahun.. . ya dalam 8 tahun di bandung cuma sekali tidak memanfaatkan kesempatan  mudik saat lebaran,  memang ada sesuatu yang terasa kurang ketika menjalani suasana idul fitri sendiri di rantau orang, sepi tidak ada suasan hiruk pikuk ketika pagi mau shalat idul fitri.. tidak ada sajian  sarapan lontong… bahkan untuk cari makan saja susahnya minta ampun, hampir semua warung tutup. Meskipun begitu, paling tidak ini ajang untuk melatih diri agar mampu mandiri, berkompromi dengan rasa kesepian, lebih memahami arti sebuah keluarga dan suasana kebersamaan..

26 September 2008 yang lalu bertepatan dengan 26 Ramadhan 1429 H, kami kembali menjalani mudik ke kampung halaman, Tiku sebuah nagari di sumatera Barat, perasaan yang bercampur aduk terbisik dalam hati, ada rasa senang karena akan pulang ke rumah bertemu keluargadan  teman lama tapi disisi lain ada kesedihan , mengingat ini juga mengisyaratkan ramadhan tahun ini akan berakhir, akan kah ada kesempatan untuk bertemu ramadhan tahun depan? ., Untuk kali ini kami mudik menggunakan jalur darat dengan kendaran pribadi yang sengaja kami sewa selama mudik,, Berangkat dari Bandung hari jumat bada buka puasa, menuju Bogor menjembut anggota rombongan, dari Bogor langsung ke Tanggerang tepatnya BSD karena ada sisa satu lagi anggota rombongan, hingga semuanya berjumlah 6 orang. dari tol Jagorawi, menuju BSD kami sempat nyasar, keliling melewati tol, bingung karena tidak ada diantara kami yang tahu jakarta, untung bisa menghubungi pusat informasi jalan tol, dari sini lah oleh operator kami dituntun ke BSD, setelah “berpetualang” di jalan tol, akhirnya kami bisa bertemu dengan angota terakhir , setelah lengkap anggota rombongan, kami tancap gas menuju pelabuhan merak.. di merak kami janjian dengan teman yang juga dari Bandung untuk konvoi hingga sampe padang…

Kurang lebih jam dua malam, keluar tol merak menuju dermaga kapal, kami terjebak dalam kemacetan, deretan panjang mobil yang juga berniat sama dengan kami ‘mudik’ ke berbagai  daerah tujuan di pulau sumatera.. konon kabarnya ada rombongan “pulang basamo” ke Batusangka 150 mobil. Hingga sahur pun harus makan nasi bungkus, memanfaatkan suasana jalan macet yang kebetulan dipinggir jalan terdapat rumah makan, kami pun mesti menikmati makan sahur didalam mobil.. bahkan masih dalam suasana macet saya sempat ketinggalan mobil sejauh kurang lebih 2 km karena turun untuk keperluan ke toilet. dan saya mesti berjuang mengejar mobil dengan berlari lari kecil,  olah raga subuh..cukup capek juga ternyata… hingga mobil  mesti berhenti menepi untuk menunggu saya.. kasihan deh GW… kemacetan berlanjut hingga menunggu giliran masuk kapal, bahkan saya mesti shalat subuh diatas mobil, hingga akhirnya kami berhasil masuk kapal sekitar jam 10 pagi,,, kondisi cuaca panas dalam antrian ini membuat kami harus membatalkan puasa, mengambil keringanan sebagai mushafir, tentu dengan konsekuensi mesti di qodo nantinya. sebuah  perjalanan cukup megesankan berada dalam kemacetan selama 8 jam, lumayaaan  …

Sambil menikmati suasana kapal penyebrangan menuju Bakauhuni  melintasi laut selat sunda,  suhunya yang panas, dan ayunan kapal karena gelombang ombak, ada menikamti kelelhannya dengan tidur, becanda tawa, di pijat karena memang ada jasa pijat diatas kapal (tentunya tidak gratis), hingga berembug menetapakan jalur lintas sumatera yang  akan kami lalui, Lintas Timur atau Lintas Barat?

Stelah kira kira 2,5 jam menyebrang, kami mendarat di pula sumatera, pelabuhan Bakauhuni. karena telah membatalkan puasa, maka kami mencari makan siang, dan mampir di RM Siang Malam kira kira 2  jam dari Bakauhuni, untuk perjalanan mudik, ini salah satu tempat makan yang direkomendasikan, harga standar perjalanan lah porsi menu standar 20 ribu an per orang, dan rasa nya lumayan …

” wah udah hampir sebulan tidak makan siang nih” celoteh salah seorang teman ku sambil menikmati makan siangnya lagi …

… Bersambung

Zero to Hero

September 24th, 2008 by enra

Zero Mind Process, ini inspirasi yang ku dapatkan dari salah satu buku favorit ku, me-nol-kan diri; menyadari bahwa aku bukan lah siapa siapa, ana abdullah, ya aku hanya lah seorang hamba dari Rabb Yang Maha Kuasa.. seorang hamba yang masih saja tidak mau taat kepada Rabbnya, kalaupun ada ketaatan itu, belumlah dengan sepenuh hati..

Ku renungi setiap langkah dalam perjalanan hdup ku, sedari ku kecil hingga titik aku berada saat ini, ku kilas balik setiap peristiwa yang masih terekam dalam file di pikiran ku,

Ku sadari setiap dosa dan kesalahan ku di masa lalu,  begitu banyak waktu yang kusia sia kan dalam hidup ini, aku lupa bahkan mungkin melupakan bahwa aku suatu saat akan bertemu dengan Rabb ku, dalam pertemuan itu aku kan pertanggung jawabkan setiap perbuatan ku khelak kepada kepada Rabb ku, jika itu adalah dosa walaupun sebesar zarah dan aku tidak sempat memohon ampun maka celakalah aku.. (Astaghfirullah)..

Ku kuatkan diri ku tuk menyadari jika ini adalah ramadahan terakhir yang Allah berikan untuk ku, aku memohon agar Allah terima tobat ku, Allah ampuni setiap dosa ku walaupun itu seluas langit dan bumi, Allah ridhoi amalan ku meskipun itu sebesar zarah…

Ku lapangkan dada tuk nerima, setiap takdir dari Allah, selama  dan hingga hari ini ku terima, ku pelajari setiap kegagalan ku di masa lalu, ku peras dan ku ambil sarinya agar bisa jadi ibrah bagi diri ku hingga mampu memaknai perjalanan ini..

Tapi…

Jika Allah beri aku kesempatan bertemu Ramadhan tahun depan, ku kuatkan azzam ku tuk berkomitmen, 11 bulan mesti menjadi waktu yang lebih produktif, membangun kualitas diri menjadi bagian dari umat yang terbaik yang Allah hadirkan diatas bumi ini, berkarya dan bermanfaat bagi orang lain, berkontribusi untuk perubahan… membangun peradapan manusia di akhir zaman.. agar saat pertemuan dengan Rabb ku khelak, aku berharap dapatkan RahmatNya, ALLAHU AKBAR..

Lahaula walakuwata illahbillah

…………………………………………

Perjalananan ini (episode I)

September 18th, 2008 by enra

Perjalanan Hidup Q dimulai dari sebuah daerah pesisir di Sumatera Barat, yang  dikenal masyarakat minang kabau zaman dahulu sebagai nagari Tiku, sebuah daerah yang memiliki pantai putih nan indah yang terbentang pada garis pantai Barat pulau Sumatera yang menghadap ke Samudera Indonesia dengan potensi kekayaan laut yang cukup besar, sehingga mayoritas masyarakatnya dalam mencari nafkah dan mengejar kesejahteraan ekonomi cendrung memilih menjadi nelayan atau saudagar ikan,  akupun sejak kecil menyukai macam-macam ikan laut, gulai hiu (khusus jika dimasak Ibu Q), Kepiting, Lauak karang, lauak suaso, dan lainnya, yang setiba di Bandung baru kukenal istilahnya sea food. Konon menurut cerita sejarah dari Ayah Q, Dulu kala Tiku adalah sebuah kota pelabuhan di ranah minang kabau, yang konon berasal dari kata teko (persis ejaaan nya aku tidak tahu) yang dalam bahasa Portugis berarti pelabuhan. Sejarahnya Pada zaman penjajahan Belanda Tiku dijmasukan dalam bagian wilayah Pariaman, selanjutnya entah sejak kapan Tiku menjadi wilayah Kabupaten Agam.

Kemudian Sejak munculnya program babaliak ka nagari di Sumatera Barat, Tiku dipisah menjadi tiga kanagarian, salah satunya  nagari Tiku Selatan, ini tempat AQ dilahirkan, persis nya simpang tangah pasa Tiku, jalur jalan yang menghubungkan kota Padang dengan Lubuk Basuang (ibukota Kab. Agam) dan daerah kab. Pasaman, Tiku Selatan adalah ibukota kecamatan Tanjung Mutiara  Kabupaten Agam, meskipun berada secara teritori masuk dalam administrasi Kab. Agam tapi secara sosial budaya masyarakatnya mengikut pada tradisi masyarakat Pariaman, baik itu bahasa kesehariannya, upacara pernikahan, maupun adat istiadat lainya, sehingga kalau diperantauan orang-orang Tiku lebih merasa menjadi bagian dari kamunitas  perantau pariaman dari pada komunitas Agam. Kemudian sesuai Adat Minang Kabau, Aq bersuku  Mandailiang, yang konon katanya berasal dari kata Mandeh nan Hilang, merupakan pecahan dari suku Melayu. Dan AQ babako ka suku Jambak (suku Bapak Q), Sedangkan menurut Adat Pariaman, sebagai urang sumando Ayah Q dipanggil Bagindo.

Di Tiku ini lah AQ tumbuh bersama keluarga yang sederhana, Ayah Q seorang guru, setamat dari IKIP (sekarang UPI) Bandung tahun 1966, Ayah Q memutuskan pulang ke Tiku berkarier sebagai guru, awal karier nya di tempatkan di SMA Negeri Maninjau, tapi karena jauh, saat itu transportasi memamng masih sulit, Ayah memilih mengajar di SMP di Tiku, hampir sepanjang kariernya Ayah Q mengabdi sebagai guru di SMP Tiku, jabatannya paling tinggi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, entah kenapa Ayah Q tidak tergiur untuk menjadi kepala sekolah agar lebih menjanjikan kehidupan. Tapi apa yang dijalani sepanjang karier nya aku yakin Ayah Q  punya pertimbangan sendiri untuk tidak mengejar jabatan, ini nilai moral yang kudapatkan dari Ayah, sebuah Pengabdian. Sedangkan Ibu Q seorang ibu rumah tangga, Ibu ku adalah anak tunggal dari Nenek Q, Orang tua Q tinggal di sebuah rumah pusako warisan nenek Q yang jatuh hak warisnya kepada ibu Q, hukum waris sistem Materilinial minang kabau. Dalam keluarga AQ tumbuh bersama 5 saudara Q yang lain, dua orang uni Q yang ku panggil dengan Ni kupit dan Ni Ririn dan dua orang ajo Q yang kupanggil dengan Jo kuniang dan Jo Manih  serta AQ punya satu orang adik laki-laki .

Hingga kini AQ masih merekam kenangan masa masa kecil Q, pengalaman yang menyenangkan   ketika diajak Ayah Q ketempat wisata di  kota Padang, bermain berbagai permainan anak-anak di Stanza yang kemudian disulap menjadi  Matahari Store Pasar Raya Padang dan jalan2 ke Bukittinggi mengelilingi kebun binatang, menyusuri goa jepang dan lainnya. Kemudian setelah masuk sekolah SD, AQ masih ingat  ketika libur panjang sekolah, saat itu kelas dua ketika AQ diajak Ibu  ke kota Medan terus ke Banda Aceh, yang saat itu keperluan Ibu adalah mengantar Jo Kuniang Q yang diterima kuliah di Universitas Syiahkuala Banda Aceh, ini perjalanan yang paling jauh ku tempuh saat itu dan kesempatan bertemu dunsanak-dunsanak Ibu, suatu silaturahami yang membuat AQ jadi tahu bahwa ibu Q punya banyak saudara jauh dari keturunan nenek nenek kami yang dalam masyarakat minang kabau disebut dunsanak saparuik. Meskipun kami jarang bertemu tetapi sambutan mereka tetap hangat dan terkesan sangat dekat.

Dalam proses belajar disekolah, dimasa SD ini sudah  mulai muncul rasa suka Q pada mata pelajaran menghitung dan semasa itu juga mulai tampak kekurang tertarikan Q pada pelajaran yang berbau kesenian, yang barangkali kondisi ini yang mendorong sampai masa dewasa otak kiri Q lebih dominan dari otak kanan. Selain itu dari kelas satu sampai kelas enam AQ sering mendapat ranking, menurut Q mungkin ini yang menjadi alasan guru kelas Q  untuk menunjuk Q menjadi ketua kelas hampir setiap tahunnya, dan bagi Q, ini menjadi sebuah proses  alami sebagai  pelatihan Leadership dalam diri Q. Saat masih kelas 4 SD AQ sudah bergabung dalam  regu siaga pramuka sekolah bersama kakak-kakak kelas Q, dan saat kelas 6 AQ kembali menjadi Anggota Regu dalam kegiatan pramuka tingkat kecamatan. Selain itu saat kelas 6 ini juga AQ juga pernah punya pengalaman menjadi salah satu anggota regu Cerdas Cermat dalam perlombaan tingkat SD di kecamatan Q dalam perayaan kemerdekaan RI, dan saat itu kelompok Q sebagai perwakilan sekolah mendapat Juara. Kegiatan ekstrakurikuler Q yang lain adalah menjadi personel Drum Band Cilik Sekolah dalam Perayaan Agustusan. AQ pun pernah menjadi wakil sekolah dalam olimpiade matematika tingkat kabupaten, meskipun tidak mendapat prestasi. Selain kegiatan diatas, semasa SD ini AQ menggemari kegiatan olah raga bulutangkis, tennis meja, dan aku pernah bergabung dalam sekolah sepak Bola (SSB) hingga kelas satu SMP.

Selepas waktu sekolah di siang hari, masa kecil Q di lalui bersama teman-teman dengan bermain; main gasti, main cabur, main patok lele, main katorok mandok, dan berbagai permainan anak nagari yang membuat ku selalu rindu suasana itu hingga saat ini (karena anak sekarang sudah tidak mengenal permainan itu lagi). Ketika telah tiba sore harinya selepas bermain, kami mangaji di MDA atau juga di surau setelah Maghrib hingga datangnya waktu Isya. Disurau AQ mendapat tempaan ilmu agama, yang masih teringat adalah cara AQ diajari Baca Alquran oleh sang guru ngaji yang “galak”, jika kami tidak memperhatikan dalam pelajaran atau ketika kami tidak datang, telapak tangan kami bisa dilacuik dengan rotan, dan jika AQ tidak betah di suatu tempat ngaji, AQ minta kepada orang tua Q untuk dipindahkan ke surau atau tempat lain, alasan Q saat itu karena  teman main Q banyak yang ikut ngaji di tempat lain. Saat ngaji di MDA AQ masih terkesan dengan agenda Didikan Subuh-nya  setiap hari Minggu subuh, menurut Q ini adalah pola pendidikan karakter, selain baca Alquran banyak hal lain diperlajari disini, Aqidah, Akhlak, Ibadah, cerita sejarah para Nabi dan Sahabat, olah raga pagi dan kegiatan gotong royong membersihkan bangunan MDA.

Satu lagi yang sangat menyenangkan bagi Q adalah keriangan kami menjadi si “Bolang”, secara diam-diam, kami bermain ke pantai untuk cari imih, mandi lauik, karena waktu itu meskipun kami tumbuh di daerah pesisir, kami dilarang oleh orang tua untuk bermain di pantai yang  jaraknya  1 km-an dari rumah kami. Barangkali saat itu orang tua mengkwatirkan keselamatan kami jika bermain ke pantai. Dan barangkali apa yang Q lalui semasa kecil ini menjadi benih tumbuhnya kesenangan Q terhadap kegiatan alam.  (Bersambung…)

Life is Simple

August 21st, 2008 by enra

Dalam bahasa ibu kita ini berarti ‘Hidup itu Mudah’. Begitu lah semestinya kita memaknai kehidupan, Tidak perlu ada segala sesuatu yang kita kwatirkan, Segala sesuatu itu hanya bagai fatamorgana, Tapi bukan juga berarti menyepelekan kehidupan.

DALAM HIDUP, Kita punya Harapan dan Tujuan, Kita raih sampai batas kemampuan, Setiap kewajiban kita laksanakan, Yang menjadi hak kita upayakan, Meninggalkan segala yang dilarang, Menjalankan apa yang diperintahkan.

MUDAH, Karena segalanya sudah tersedia di Bumi ini, Segala kondisi sudah ada yang mengatur, Segala keadaan sudah ada ketentuannya, Kita mendapatkan apa yang telah diusahakan, Bersyukur atas apa yang telah diberikan Bersabar dalam setiap ujian.

SULIT, Itu hanya ada dalam ruang pikiran, Barangkali kita kurang punya kemauan, Atau usaha kita yang tidak maksimal, Kecendrungan mengeluh setiap menemui ujian, Padahal setiap kesulitan ada kemudahan.

SEPELE, Ini hanya bagi yg tidak punya Harapan dan Tujuan

Mengingat Kematian

May 15th, 2008 by enra

Oleh Ihsan Tandjung

Sesungguhnya
di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada
berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah
panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara
hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene
merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi,
dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian.
Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat
pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia
disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah,
jika bukan ibadah yang murni.

Rasulullah saw bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)

Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali
dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu
mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu
mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan
peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk
mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah
kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit
dan manusiapun melalaikannya.

اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka,
sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS
Al-Anbiya 1)

Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan
mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari
mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia
tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di
dalam firman-Nya:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ
فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS
Al-Jumu’ah 8)

Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.

Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia
tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat
semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya,
mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.

Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat
kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu
ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian
karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan
memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke
dalam sabda Nabi saw:

مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan
Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena
berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang
memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan
diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak
dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk
menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka
ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.

Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat
kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya.
Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan
kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya
kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari
kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan
alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika
menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang
yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih
aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan
kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian
atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”

Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai
kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai
dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya
ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak
memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai
adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan
wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha,
yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian
tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke
dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak
dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera
kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap
hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah
termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)

Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian
sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu
berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat
menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan
untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan
tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:

تحفة المؤمن الموت

“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)

Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang
mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah
mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan
demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan
pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:

الموت كفارة لكل مسلم

“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)

Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim
lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan
akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan
kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari
dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan
menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis
surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini
sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian
tetapi tidak akan mendapatkannya.”

(Sumber : Eramuslim.com)

Hukum Asuransi Dalam Al-Quran

May 14th, 2008 by enra

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi
wabarakatuh,

Terus terang saja bahwa di dalam Al-Quran tidak ada hukum asuransi. Oleh karena
itulah muncul spekulasi di kalangan umat Islam tentang hukumnya, apakah halal
atau haram.

Seandainya ada satu saja ayat Al-Quran dari jumlah ayat
yang mencapai 6000 lebih menyebutkan hukum asuransi, pastilah tidak akan muncul
perbedaan pendapat. Sayangnya bahkan hadits nabawi, tidak ada satu pun yang
juga menyebut-nyebut hukum asuransi.

Mungkin Anda bertanya, kenapa urusan asuransi yang
sedemikian erat kaitannya dengan manusia tidak disebut-sebut di dalam Al-Quran
dan As-Sunnah? Apakah hal itu berarti Quran dan Sunnah tidak lengkap?

Jawabnya karena praktek asuransi baru muncul berabad-abad
jauh setelahAl-Quran diturunkan, belasan abad setelah nabi Muhammad SAW wafat.
Di masa turunnya, manusia belum lagi melaksanakan asuransi, dan juga sekian
banyak bentuk praktek muamalah lainnya.

Jadi karena tidak ada satu kata pun di dalam Al-Quran atau
As-Sunnah yang menyebut kata ‘asuransi’, maka para ulama mulai membedah hakikat
asuransi. Maka muncullah pendapat-pendapat di kalangan ulama tentang hakikat
praktek asuransi.

Di antara pendapat itu adalah:

1.
Disimpulkan Bahwa Asuransi Sama Dengan Judi

Padahal Allah SWT dalam Al-Quran telah mengharamkan
perjudian, sebagaimana yang disebutkan di dalam ayat berikut:

Mereka bertanya kepadamu tentang
khamar dan
judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan
beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfa’atnya.”
(QS. Al-Baqarah: 219)

Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya khamar,
berjudi, berhala, mengundi
nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan
.(QS.
Al-Maidah: 90)

Karena menurut sebagian ulama bahwa pada prakteknya
asuransi itu tidak lain merupakan judi, maka mereka pun mengharamkannya. Karena
yang namanya judi itu memang telah diharamkan di dalam Al-Quran.

2.
Disimpulkan Bahwa Asuransi Mengandung Unsur Riba

Sebagian ulama lewat penelitian panjang pada akhirnya
mnyimpulkan bahwa asuransi (konvensional) tidak pernah bisa dilepaskan dari
riba. Misalnya, uang hasil premi dari peserta asuransi ternyata didepositokan
dengan sistem riba dan pembungaan uang.

Padahal yang namanya riba telah diharamkan Allah SWT di
dalam Al-Quran, sebagaimana yang bisa kita baca di ayat berikut ini:

Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang
beriman.
(QS. Al-Baqarah: 278)

Maka mereka dengan tegas mengharamkan asuransi
konvensional, karena alasan mengandung riba.

3.
Disimpulkan Bahwa Asuransi Mengandung Unsur Pemerasan

Para ulama juga menyimpulkan bahwa para peserta asuransi
atau para pemegang polis, bila tidak bisa melanjutkan pembayaran preminya, akan
hilang premi yang sudah dibayar atau dikurangi. Inilah yang dikataka sebagai
pemerasan.

Dan Al-Quran pastilah mengharamkan pemerasan atau
pengambilan uang dengan cara yang tidak benar.

Dan janganlah sebahagian kamu
memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan
kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian
daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui
.(QS.
Al-Baqarah: 188)

Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kami saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu.
(QS. An-Nisa’: 29)

4.
Disimpulkan Bahwa Hidup dan Mati Manusia Mendahului Takdir Allah.

Meski alasan ini pada akhirnya menjadi kurang populer
lagi, namun harus diakui bahwa ada sedikit perasaan yang menghantui para
peserta untuk mendahului takdir Allah.

Misalnya asuransi kematian atau kecelakaan, di mana
seharusnya seorang yang telah melakukan kehati-hatian atau telah memenuhi semua
prosedur, tinggal bertawakkal kepada Allah. Tidak perlu lagi menggantungkan
diri kepada pembayaran klaim dari perusahaan asuransi.

Padahal takdir setiap orang telah ditentukan oleh Allah
SWT sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran.

Dan memberinya rezki dari arah yang
tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya
Allah akan mencukupkan nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang Nya.
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
(QS.
Ath-Thalaq: 3)

Dan Kami tiada membinasakan sesuatu
negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.
(QS.
Al-Hijr: 4)

Itulah hasil pandangan beberapa ulama tentang asuransi
bila dibreakdown isinya. Ada beberapa hal yang melanggar aturan dalam hukum
muamalah.

Namun kita juga tahu bahwa ada juga beberapa ulama yang
masih membolehkan asuransi, tentunya dengan beberapa pertimbangan. Antara lain
mereka mengatakan bahwa pada dasarnya Al-Quran sama sekali tidak
menyebut-nyebut hukum asuransi. Sehingga hukumnya tidak bisa diharamkan begitu
saja. Karena semua perkara muamalat punya hukum dasar yang membolehkan, kecuali
bila ada hal-hal yang dianggap bertentangan.

Seandainya sebuah transaksi asuransi bisa disterilkan dari
unsur perjudian, unsur riba, pemerasan dan sikap mendahului takdir Allah, maka
seharusnya tidak ada larangan untuk menjalankan praktek asuransi. Apalagi bila
kedua belah pihak telah sepakat.

Di samping alasan itu, ada juga pertimbangan lain yang
sekiranya juga meringankan. Lantaran sistem asuransi dianggap dapat
menanggulangi kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat di
investasikan untuk proyek-proyek yang produktif dan pembangunan.

Asuransi Yang 100% Halal

TApi dari pusing-pusing memikirkan apakah sebuah bentuk
praktek asuransi itu mengandung unsur praktek haram atau tidak, sebaiknya kita
memilih saja perusahaan asuransi yang benar-benar menyatakan diri telah
menggunakan sistem syariah.

Asuransi sistem syariah pada intinya memang punya
perbedaan mendasar dengan yang konvensional, antara lain:

1.Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli
(tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang
tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat
tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

2.Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi
syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil
(mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan
pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

3.Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana
milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya.
Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan
perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan
pengelolaan dana tersebut.

4.Bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran
klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh
peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam
asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik
perusahaan.

5.Keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku
pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil.
Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik
perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

6.Adanya
Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu
keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan
investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi
konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu
‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

By ; Ahmad Sarwat,
Lc

Sumber:
Rubrik Ustadz Menjawab di www.Eramuslim.com

Hak Cipta dalam Islam

March 22nd, 2008 by enra

Istilah ‘Hak Cipta’ memang agak sedikit salah kaprah, sebab istilah ‘cipta’
punya kesan kuat sebagai wilayah kekuasaan Allah SWT. Mungkin yang agak tepat
malah istilah dalam bahasa Inggrisnya, yaitu ‘copyright’.

Seharusnya terjemahnya menjadi ‘hak untuk mengkopi, memperbanyak atau
memproduksi secara massal, ‘. Dan bukan hak untuk ‘menciptakan’, karena
penciptaan adalah hak Allah SWT. Manusia tentu saja tidak bisa mencipta.

Namun karena istilah ‘hak mengkopi’ sangat aneh di telinga kita, maka untuk
selanjutnya kita sebut saja dulu dengan bahasa aslinya, yaitu copyright. Dan
copyright ini juga bukan ke balikan dari ‘copyleft’.

Dasar Masyru’iyah

Kalau kita lihat dalam berbagai literatur fiqih klasik, rasanya sulit bagi
kita untuk menemukannya. Barangkali karena ‘urf di masa lalu belum lagi
mengenal kekayaan dalam bentuk itu.

Seiring dengan ditemukannya mesin cetak yang bisa membuat copy secara
massal, lalu diikuti dengan mesin-mesin pengganda lainnya, maka apa yang pernah
ditulis, digagas atau ditemukan oleh seseoang tiba-tiba langsung menyebar ke
berbagai tempat.

Sejak itulah muncul pihak-pihak yang bisa mendapatkan keuntungan berlipat
hanya dengan menggandakan, sementara penulis aslinya malah tidak mendapat
apa-apa, kecuali sekedar pengakuan.

Lalu ‘urf berubah, sesuatu yang awalnya hanya sekedar kekayaan dalam bentuk maknawi,
kemudian sudah berubah menjadi kekayaan dalam bentuk

mali

(harta). Inilah kemudian yang
mendasari pada ulama di masa kontemporer untuk memasukkan copyright sebagai hak
kekayaan harta.

Maka pada tanggal 10-15 Desember 1988, Majma` Al-Fiqh Al-Islami pada
Muktamar kelima di

Kuwait

telah menetapkan bahwa copyright adalah bagian dari hak kekayaan seseorang.
Berikut ini adalah terjemah dari keputusan tersebut:

Keputusan No. 43 (5/5)
tentang Hak-hak Maknawiyah

Majelis MAjma’ Fiqih Islami International dalam muktamar rutin kelimanya di
Kuwait dari 1 s/d 6 Jumadil Ula 1409 H/ 10-15 Desember 1988 M, setelah mengkaji
beberapa makalah dari para ulama dan para ahli tentang hak-hak maknawiyah,
serta setelah mendengar diskusiyang terkait dengan hal itu,

Menetapkan sebagai berikut,

Pertama: nama usaha, merek dagang, logo dagang, karangan,
dan penemuan, adalah termasuk hak-hak khusus bagi pemiliknya. Dan di masa
sekarang ini telah bernilai sebagai harta kekayaan yang muktabar untuk menjadi
pemasukan. Dan hak ini diakui oleh syariah, sehingga tidak dibenarkan untuk
melanggarnya.

Kedua: dibenarkan untuk memperjual-belikan nama usaha,
merek dagang, atau logo dagang itu, atau mempertukarkannya dengan imbalan
harta, selama tidak ada gharar, penipuan dan kecurangan. Karena
dianggap semua itu adalah hak harta benda.

Ketiga: hak atas tulisan, penemuan dan hasil penelitian
terlindungi secara syariah, para pemiliknya punya hak untuk
memperjual-belikannya, dan tidak dibenarkan untuk merampasnya.

* * *

Apa yang telah dijadikan keputusan oleh Institusi ini, sebelumnya juga telah
menjadi pendapat Dr. Said Ramadhan Al-Buthi. Ulama besar Syiria insebelum juga telah
menetapkan copyright sebagai bagian dari harta kekayaan milik seseorang yang
wajib dihargai dan haram untuk diambil begitu saja.

Sehingga masalah copyright ini tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut
kerugian harta pada diri orang lain.

Bahkan dalam syariat Islam, tidak dibedakan apakah hak itu milik muslim atau
pun non muslim. Sebab Rasulullah SAW telah menjamin bahwa setiap muslim adalah
seorang di mana orang lain akan selamat dari lisan dan tangannya.

Maksudnya, seorang muslim itu tidak akan merugikan orang lain, baik dengan
mulutnya seperti fitnah, tuduhan, kedustaan, atau pun juga dari tangannya,
seperti pencurian, perampokan dan juga menyabotan hak kekayaan intelektual.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc (Eramuslim.com)

FLU BURUNG: Konspirasi AS & WHO

March 1st, 2008 by enra
Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung Buku Menkes Fadilah
Bikin Gerah AS-WHO

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam
mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari
negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di
negara berkembang, termasuk Indonesia .
Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama
dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.
Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakukan negara adikuasa dengan cara
mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
“Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan
menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di
Jakarta , Kamis (21/2).
Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan,
Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari
penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.
Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari
petinggi WHO.
“Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul
apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga
kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat
Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.
Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing
1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
Total sebanyak 2000 buku.

“Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak
cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan
kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan
penerbitan besar,” katanya.
Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950,
mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
“Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua
bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya
dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar
menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.
Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.
“Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500
buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa
Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku
dari peredaran.
Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa
senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182
halaman itu.

Mengubah Kebijakan
Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan
WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai
selama 50 tahun.
Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di
Indonesia pada 2005.
Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak
yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
“Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi, ” tulis The Economist.
The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan
lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu
burung 2005 silam.
Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru
diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium
litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO
CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian
dibuat bibit virus.
Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju,
negara kaya, yang tak terkena flu burung.
Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke
seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110
negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.
Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico ,
AS.
Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya
tak diketahui.
Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?
Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA
virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos ,
memujinya.
Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC
agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil, transparan, dan setara.
Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus
yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik
dan membahayakan dunia.
Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di
akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui
dan GISN dihapuskan.

(Sumber dari salah satu Milling list)

KIta Manusia Egois

February 17th, 2008 by enra

"Ketika kita melihat photo bersama atau photo keluarga,
siapa yang kita perhatikan terlebih dulu? photo diri kita ?"

Kita manusia egois

Kita cendrung lebih memperdulikan diri sendiri,

Tanpa merasa perlu peduli pada yang lain.

Kita lebih suka untuk didengar oleh orang lain,

Tanpa mau sejenak mendengar orang lain.

Kita  maunya diakui dan dihargai orang lain,

Tanpa mau mengakui atau menghargai keinginan orang lain.

karena kita memang egois