Archive for November, 2007
Mengendalikan Emosi
Friday, November 23rd, 2007Emosi dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal :
kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam suatu hadits Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah.”
Dan, Allah Berfirman,
” Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
(QS. Al- Hadid : 23)
Maka dari itulah, Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya kesabaran itu ada pada benturan yang pertama.”
Barangsiapa mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan, maka dialah orang yang sejatinya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan
kenikmatan dikarenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah s.w.t menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri. Namun, menurut Allah, ketika ditimpa kesusahan manusia mudah berkeluhkesah, dan ketika mendapatkan kebaikan manusia sangat kikir. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya. Itu karena merekalah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara gelombang kesedihan yang keras dengan dan luapan kegembiraan yang tinggi. Dan mereka itulah yang akan senantiasa bersyukur tatkala mendapat kesenangan dan bersabar tatkala berada dalam kesusahan.
Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan,
dan meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika marah, misalnya, maka
kemarahannya akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan itu akan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh isi hatinya tertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia cenderung bertindak sekehendak nafsunya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tak ingat lagi siapa dirinya.
Begitulah manusia. Ketika tidak menyukai seseorang, ia cenderung menghardik dan mencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak ia sukai itu tampak lenyap begitu saja. Demikian pula ketika menyukai orang lain, maka orang itu akan terus ia puja dan sanjung setinggi-tingginya seolah-olah tak ada cacatnya. Dalam sebuah hadits dikatakan : “Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya, karena siapa tahu ia akan menjadi musuhmu di lain waktu, dan bencilah musuhmu itu sewajarnya, karena siapa tahu dia menjadi sahabatmu di lain waktu.”
Dalam sebuah hadits Rosulullah bersabda, “Ya Allah saya minta pada-Mu keadilan pada saat marah dan lapang dada.”
Barangsiapa mampu menguasai emosinya, mengendalikan akalnya dan menimbang segalanya dengan benar, maka ia akan melihat Kebenaran, akan tahu jalan yang lurus dan akan menemukan hakekat.
“Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca keadilan supaya (manusia) dapat melaksanakan keadilan.(Qs. Al-Hadid:25)
Islam mengajarkan keseimbangan norma, budi pekerti, dan perilaku sebagaimana ia mengajarkan manhaj yang lurus, syariat yang diridhai, dan agama yang suci.
“Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.”
(QS. Al-Baqarah : 143)
Keadilan merupakan tuntutan yang ideal sebagaimana ia dibutuhkan dalam penerapan hukum. Itu terjadi, karena pada dasarnya Islam dibangun di atas pondasi kebenaran dan keadilan. Yakni, benar
dalam memberitakan berita-berita Ilahi dan adil dalam menetapkan
hukum, mengucapkan perkataan, melakukan tindakan dan berbudi pekerti.
Dan,
“Telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil.”
(QS. Al-An’am:115)
(Mengutip dari buku: “La Tahzan”,DR. “Aidh al-Qarni, hal 72)
Cerita Ulang Tahun
Thursday, November 15th, 2007Beberapa hari yang lewat saya melewati hari dimana tanggal dan bulannya yang sama pada 27 tahun yang lalu saya hadir diatas bumi Nya ini…
Barangkali sebagai episode dalam cerita kehidupan ini,
Tahun tahun belakangan ini saya merasa hari ulang tahun tidak lagi seperti ketika saya lewati diusia kanak kanak, ketika hari tersebut merupakan hari yang dinanti nanti, mengharapkan hadiah dari ayah dan ibu, memotong kue serta bernyanyi bersama teman-teman sepermainan..
Atau ketika masa remaja, dimasa saya mendapat kado dari teman-teman sekolah, atau disiram dengan air kotor yang telah dicampur dengan berbagai bahan "antah brantah", dan saat saat harus mentraktir teman teman kelas..
Dan ketika tibalah masa sekarang ini, saya merasakan hari itu adalah hari ketika tidak berarti lagi mengharapkan hadiah, kue atau ucapan selamat, atau mesti mentraktir teman yang dulu saya anggap sebagai bentuk tasyakur.
Hingga saya memahami dan sadar, bahwa sesungguhnya hari itu adalah bagaikan alarm, yang memberikan tanda perihal waktu, tanda yang mengingatkan bahwa sisa waktu saya dalam kehidupan ini semakin pendek, tanda yang mengingatkan saya bahwa kematian itu semakin dekat, tanda yang mengingatkan saya bahwa waktu untuk mempersiapkan diri bertemu dengan NYA semakin singkat……..
Ketika hari itu datang mestinya saya lalui dalam bentuk evaluasi besar tahunan, memohon ampun kepada Allah atas segala kelalaian dalam hidup ini, memohon maaf dan mengharapkan doa dari orang-orang disekitar..
Mengharapkan keberkahan dalam sisa waktu kehidupan, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan NYA…
"Dan Allah tidak akan menunda (Kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" Q.S. Al-Munafiqun (11)