Terinspirasi dari sebuah petuah dari salah seorang perintis “ Mapenta tidak butuh orang yang jago naik gunung, tapi butuh orang-orang yang bertanggung jawab, cepat mengambil keputusan, …… ”. Hakekatnya didikan di Mapenta tidak sekedar untuk menjadi orang yang jago naik gunung tapi lebih penting dari itu ialah untuk menempa diri melalui jalan kegiatan mendaki gunung.
Kegiatan alam bebas diharapkan mampu melatih kita untuk tumbuh dan berkembang menjadi sosok manusia yang berkarakter, mampu memegang prinsip dan menjaga nilai nilai kehidupan, ketika berada dilingkungan masyarakat ia memiliki kemampuan beradaptasi dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.
Manusia yang kuat secara fisik, Ketika melewati berbagai medan; berjalan menyusuri hutan berhari hari, mengarungi sungai yang deras, mencengkram batu yang keras dan tajam dalam kondisi cuaca panas, hujan atau dingin, sudah barang tentu membutuhkan kesiapan fisik yang kuat. Suatu kekuatan yang tidak datang begitu saja, tidak seperti halnya Talent (bakat) yang katanya sudah ada dari orok. ia terbentuk karena dilatih jauh jauh hari sebelumnya, membentuk ketahanan fisik butuh kedisiplinan dan konsistensi, sehingga setiap orang, siapa pun dia, laki atau perempuan bisa mendapatkan fisik yang kuat, asal punya kemauan untuk melatih.
Manusia yang bermental tangguh, Ketika panas terik matahari dirasakan saat mendaki tanjakan, berjalan dalam hujan menyusuri jalan setapak yang seakan akan-akan tanpa ujung, tidur di alam dalam kondisi lembab dan dingin, merupakan sebagian kecil dari kondisi yang biasa dijalani penggiat alam bebas. Terbiasa mengalami kondisi sulit dalam keadaan yang serba terbatas tanpa fasilitas merupakan suatu proses melatih mental untuk mampu menghadapi berbagai kendala dan halangan, menjadi sebuah tantangan yang harus di atasi dengan kegigihan dan ketabahan.
Manusia yang mengasah pikiran. “Lelah, ngantuk dan lapar harus tetap berpikir”, memberikan suatu arti bahwasanya otak harus senantiasa bekerja salam berbagai kondisi, keadaan alam tidak dapat diprediksi, badai bisa datang kapan saja, ketika terjaga atau sedang tidur pulas, sehingga penggiat alam bebas senantiasa dituntut untuk selalu siap, kelengahan dalam hitungan detik bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Manusia yang peka terhadap lingkungan sosial. Berinteraksi dengan berbagai latar belakang orang, masyarakat modern hingga masyarakat pedalaman, orang kota hingga pelosok desa, masyarakat dengan karakter budaya Aceh hingga Papua, sekiranya bisa mendidik kita untuk mampu mehamami setiap orang, mampu membangun hubungan baik dengan orang lain, membentuk kepekaan kita dalam menulusuri segala kelebihan dan kekurangan, kebutuhan dan keluhan orang orang disekitar kita.
Manusia yang sadar akan kebesaran Sang Khaliq. Menatap deretan pegunungan, menghirup segarnya udara hutan, mendengar merdunya suara burung, menikmati keheningan dalam gelapnya lobang goa mestinya bisa membimbing kita kepada kesadaran dan keyakinan akan adanya eksisensi Sang Pencipta di alam semesta ini. Dan yang terpenting dari kegiata alam bebas ini, ia diharapkan mampu membentuk diri kita menjadi manusia yang memiliki keimanan yang kuat kepada Sang Khaliq, keimanan yang tertuang dalam pola pikir, tertancap dalam keteguhan hati dan teramalkan dalam keseharian. Wallahu’alam bishshaawab (Musafir).