Archive for February, 2008

KIta Manusia Egois

Sunday, February 17th, 2008

"Ketika kita melihat photo bersama atau photo keluarga,
siapa yang kita perhatikan terlebih dulu? photo diri kita ?"

Kita manusia egois

Kita cendrung lebih memperdulikan diri sendiri,

Tanpa merasa perlu peduli pada yang lain.

Kita lebih suka untuk didengar oleh orang lain,

Tanpa mau sejenak mendengar orang lain.

Kita  maunya diakui dan dihargai orang lain,

Tanpa mau mengakui atau menghargai keinginan orang lain.

karena kita memang egois

“Produk Mapenta adalah Manusia”

Saturday, February 9th, 2008

Terinspirasi dari sebuah petuah dari salah seorang perintis  “ Mapenta tidak butuh orang yang jago naik gunung, tapi butuh orang-orang yang bertanggung jawab, cepat mengambil keputusan, …… ”. Hakekatnya didikan di Mapenta tidak sekedar untuk menjadi orang yang jago naik gunung tapi lebih penting dari itu ialah untuk menempa diri melalui jalan kegiatan mendaki gunung.

Kegiatan alam bebas diharapkan mampu melatih kita untuk tumbuh dan berkembang  menjadi sosok manusia yang berkarakter, mampu memegang prinsip  dan menjaga nilai nilai  kehidupan, ketika berada dilingkungan masyarakat ia memiliki kemampuan beradaptasi dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Manusia yang kuat secara fisik, Ketika melewati berbagai medan; berjalan menyusuri hutan berhari hari, mengarungi sungai yang deras, mencengkram batu yang keras dan tajam dalam kondisi cuaca panas, hujan atau dingin, sudah barang tentu membutuhkan  kesiapan fisik yang kuat. Suatu kekuatan yang tidak datang begitu saja, tidak seperti halnya Talent (bakat) yang katanya sudah ada dari orok.  ia terbentuk karena dilatih jauh jauh hari sebelumnya, membentuk ketahanan fisik butuh kedisiplinan dan konsistensi, sehingga setiap orang, siapa pun dia, laki atau perempuan bisa mendapatkan fisik yang kuat, asal punya kemauan untuk melatih.
Manusia yang bermental tangguh, Ketika panas terik matahari dirasakan saat mendaki tanjakan, berjalan dalam hujan menyusuri jalan setapak yang seakan akan-akan tanpa ujung, tidur di alam dalam kondisi lembab dan dingin, merupakan sebagian kecil dari kondisi yang biasa dijalani penggiat alam bebas.  Terbiasa mengalami kondisi sulit dalam keadaan yang serba terbatas tanpa fasilitas merupakan suatu proses melatih mental untuk mampu menghadapi berbagai kendala dan halangan, menjadi sebuah tantangan yang harus di atasi  dengan kegigihan dan ketabahan.
Manusia yang mengasah pikiran. “Lelah, ngantuk dan lapar harus tetap berpikir”, memberikan suatu arti bahwasanya otak harus senantiasa bekerja salam berbagai kondisi, keadaan alam tidak dapat diprediksi, badai bisa datang kapan saja, ketika terjaga atau sedang tidur pulas, sehingga penggiat alam bebas senantiasa dituntut untuk selalu siap, kelengahan dalam hitungan detik bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Manusia yang peka terhadap lingkungan sosial. Berinteraksi dengan berbagai latar belakang orang, masyarakat modern hingga masyarakat pedalaman, orang kota hingga pelosok desa,  masyarakat dengan karakter budaya Aceh hingga Papua, sekiranya bisa mendidik kita untuk mampu mehamami setiap orang, mampu membangun hubungan baik dengan orang lain, membentuk kepekaan kita dalam  menulusuri segala kelebihan dan kekurangan, kebutuhan dan keluhan orang orang disekitar kita.
Manusia yang sadar akan kebesaran Sang Khaliq. Menatap deretan pegunungan, menghirup segarnya udara hutan, mendengar merdunya  suara burung, menikmati keheningan dalam gelapnya lobang goa mestinya bisa membimbing kita kepada kesadaran dan keyakinan akan adanya eksisensi  Sang Pencipta di alam semesta ini. Dan yang terpenting dari kegiata alam bebas ini, ia diharapkan mampu membentuk diri kita menjadi manusia yang memiliki keimanan yang kuat kepada Sang Khaliq, keimanan  yang tertuang dalam pola pikir, tertancap dalam keteguhan hati dan teramalkan dalam keseharian. Wallahu’alam bishshaawab (Musafir).

“Alam Takambang jadi Guru”

Saturday, February 9th, 2008

Awal awal di Mapenta, saya pernah mendapat pertanyaan  “Ngapain sih naik gunung?”.  Saya menjawab “ng’habisan duit bulanan”, jawaban ini hanyalah sebuah kalimat spontanitas dan nyeleneh. Perjalanan waktu, mulai memahami makna dari setiap perjalanan saya bahwa apa yang saya jalani dan saya lalui selama ini adalah sebuah proses untuk menempa diri, sehingga sekarang ini jawaban saya dari pertanyaan tadi “naik gunung, memanjat tebing, mengarungi sungai, menyusuri goa dan pantai adalah  untuk belajar hidup”.

Judul diatas merupakan sebuah pepatah masyarakat minang, dalam bahasa indonesia berarti Belajar dari Setiap Fenomena Alam. Sebuah inspirasi bagi kita (khususnya saya) sebagai anak muda yang masih mencari arti dan tujuan dari perjalanan hidup, sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang keseharian berkecimpung di alam bebas sekiranya mampu berpikir serta merenungkan dari setiap fenomena yang dilihat di alam ini, dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami, menjadikan segala sesuatu yang terdapat di alam semesta sebagai guru, guru yang memberikan ilmu dan makna dari setiap langkah dalam perjalanan hidup ini.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , dan pergantian malam dan siang terdapat tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang orang yang berakal, yaitu orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau sambil berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia sia, Maha Suci Engkau, lindungi kami dari azab neraka.” (Q.S. 3:190-191).

Ketika kita main ke pantai, selain cantiknya laut nan biru sudah pasti kita temukan lambaian pohon kelapa, ada yang rendah dan ada yang tinggi, semakin tinggi pohon kelapa maka semakin  kuat terpaan angin laut . semakin kuat angin yang diterimanya maka akarnya pun  akan semakin kuat pula. Selain itu pohon kelapa ini memberikan begitu banyak manfaat, dari batang pohonnya yang bisa dijadikan sebagai papan, airnya untuk diminum, sarinya untuk santan, tempurungnya sebagai alat bakar, dan hingga hampir semua bagian dari pohon kelapa ini dapat dimanfaatkan.
Kemudian di pantai kita menemukan ikan laut, ketika kita memakan ikan laut, apakah rasanya asin? Tentu tidak, padahal ikan laut hidup dilingkungan air yang asin tetapi kenapa daging ikan laut tidak ikut asin.
Apa makna dari kedua fenomena diatas?  Masing masing orang dapat merenungkannya dan memahami dari sudut pandangnya masing-masing! Wallahu’alam bish shawab. (Musafir)