“Alam Takambang jadi Guru”

Awal awal di Mapenta, saya pernah mendapat pertanyaan  “Ngapain sih naik gunung?”.  Saya menjawab “ng’habisan duit bulanan”, jawaban ini hanyalah sebuah kalimat spontanitas dan nyeleneh. Perjalanan waktu, mulai memahami makna dari setiap perjalanan saya bahwa apa yang saya jalani dan saya lalui selama ini adalah sebuah proses untuk menempa diri, sehingga sekarang ini jawaban saya dari pertanyaan tadi “naik gunung, memanjat tebing, mengarungi sungai, menyusuri goa dan pantai adalah  untuk belajar hidup”.

Judul diatas merupakan sebuah pepatah masyarakat minang, dalam bahasa indonesia berarti Belajar dari Setiap Fenomena Alam. Sebuah inspirasi bagi kita (khususnya saya) sebagai anak muda yang masih mencari arti dan tujuan dari perjalanan hidup, sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang keseharian berkecimpung di alam bebas sekiranya mampu berpikir serta merenungkan dari setiap fenomena yang dilihat di alam ini, dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami, menjadikan segala sesuatu yang terdapat di alam semesta sebagai guru, guru yang memberikan ilmu dan makna dari setiap langkah dalam perjalanan hidup ini.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , dan pergantian malam dan siang terdapat tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang orang yang berakal, yaitu orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau sambil berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia sia, Maha Suci Engkau, lindungi kami dari azab neraka.” (Q.S. 3:190-191).

Ketika kita main ke pantai, selain cantiknya laut nan biru sudah pasti kita temukan lambaian pohon kelapa, ada yang rendah dan ada yang tinggi, semakin tinggi pohon kelapa maka semakin  kuat terpaan angin laut . semakin kuat angin yang diterimanya maka akarnya pun  akan semakin kuat pula. Selain itu pohon kelapa ini memberikan begitu banyak manfaat, dari batang pohonnya yang bisa dijadikan sebagai papan, airnya untuk diminum, sarinya untuk santan, tempurungnya sebagai alat bakar, dan hingga hampir semua bagian dari pohon kelapa ini dapat dimanfaatkan.
Kemudian di pantai kita menemukan ikan laut, ketika kita memakan ikan laut, apakah rasanya asin? Tentu tidak, padahal ikan laut hidup dilingkungan air yang asin tetapi kenapa daging ikan laut tidak ikut asin.
Apa makna dari kedua fenomena diatas?  Masing masing orang dapat merenungkannya dan memahami dari sudut pandangnya masing-masing! Wallahu’alam bish shawab. (Musafir)

Leave a Reply