Mengingat Kematian
Thursday, May 15th, 2008Oleh Ihsan Tandjung
Sesungguhnya
di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada
berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah
panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara
hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene
merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi,
dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian.
Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat
pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia
disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah,
jika bukan ibadah yang murni.
Rasulullah saw bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)
Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali
dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu
mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu
mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan
peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk
mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah
kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit
dan manusiapun melalaikannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka,
sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS
Al-Anbiya 1)
Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan
mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari
mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia
tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di
dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ
فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya,
maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS
Al-Jumu’ah
Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.
Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia
tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat
semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya,
mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.
Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat
kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu
ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian
karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan
memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke
dalam sabda Nabi saw:
مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan
Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena
berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang
memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan
diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak
dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk
menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka
ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.
Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat
kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya.
Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan
kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya
kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari
kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan
alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika
menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang
yang menyesal. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih
aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan
kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian
atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”
Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai
kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai
dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya
ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak
memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai
adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan
wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha,
yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian
tetap memberikan pahala dan keutamaan. Karena orang yang tenggelam ke
dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak
dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera
kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap
hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah
termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)
Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian
sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu
berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat
menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan
untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan
tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:
تحفة المؤمن الموت
“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)
Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang
mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah
mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan
demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan
pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:
الموت كفارة لكل مسلم
“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)
Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim
lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan
akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan
kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari
dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan
menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis
surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini
sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian
tetapi tidak akan mendapatkannya.”
(Sumber : Eramuslim.com)