Perjalananan ini (episode I)
Perjalanan Hidup Q dimulai dari sebuah daerah pesisir di Sumatera Barat, yang dikenal masyarakat minang kabau zaman dahulu sebagai nagari Tiku, sebuah daerah yang memiliki pantai putih nan indah yang terbentang pada garis pantai Barat pulau Sumatera yang menghadap ke Samudera Indonesia dengan potensi kekayaan laut yang cukup besar, sehingga mayoritas masyarakatnya dalam mencari nafkah dan mengejar kesejahteraan ekonomi cendrung memilih menjadi nelayan atau saudagar ikan, akupun sejak kecil menyukai macam-macam ikan laut, gulai hiu (khusus jika dimasak Ibu Q), Kepiting, Lauak karang, lauak suaso, dan lainnya, yang setiba di Bandung baru kukenal istilahnya sea food. Konon menurut cerita sejarah dari Ayah Q, Dulu kala Tiku adalah sebuah kota pelabuhan di ranah minang kabau, yang konon berasal dari kata teko (persis ejaaan nya aku tidak tahu) yang dalam bahasa Portugis berarti pelabuhan. Sejarahnya Pada zaman penjajahan Belanda Tiku dijmasukan dalam bagian wilayah Pariaman, selanjutnya entah sejak kapan Tiku menjadi wilayah Kabupaten Agam.
Kemudian Sejak munculnya program babaliak ka nagari di Sumatera Barat, Tiku dipisah menjadi tiga kanagarian, salah satunya nagari Tiku Selatan, ini tempat AQ dilahirkan, persis nya simpang tangah pasa Tiku, jalur jalan yang menghubungkan kota Padang dengan Lubuk Basuang (ibukota Kab. Agam) dan daerah kab. Pasaman, Tiku Selatan adalah ibukota kecamatan Tanjung Mutiara Kabupaten Agam, meskipun berada secara teritori masuk dalam administrasi Kab. Agam tapi secara sosial budaya masyarakatnya mengikut pada tradisi masyarakat Pariaman, baik itu bahasa kesehariannya, upacara pernikahan, maupun adat istiadat lainya, sehingga kalau diperantauan orang-orang Tiku lebih merasa menjadi bagian dari kamunitas perantau pariaman dari pada komunitas Agam. Kemudian sesuai Adat Minang Kabau, Aq bersuku Mandailiang, yang konon katanya berasal dari kata Mandeh nan Hilang, merupakan pecahan dari suku Melayu. Dan AQ babako ka suku Jambak (suku Bapak Q), Sedangkan menurut Adat Pariaman, sebagai urang sumando Ayah Q dipanggil Bagindo.
Di Tiku ini lah AQ tumbuh bersama keluarga yang sederhana, Ayah Q seorang guru, setamat dari IKIP (sekarang UPI) Bandung tahun 1966, Ayah Q memutuskan pulang ke Tiku berkarier sebagai guru, awal karier nya di tempatkan di SMA Negeri Maninjau, tapi karena jauh, saat itu transportasi memamng masih sulit, Ayah memilih mengajar di SMP di Tiku, hampir sepanjang kariernya Ayah Q mengabdi sebagai guru di SMP Tiku, jabatannya paling tinggi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan, entah kenapa Ayah Q tidak tergiur untuk menjadi kepala sekolah agar lebih menjanjikan kehidupan. Tapi apa yang dijalani sepanjang karier nya aku yakin Ayah Q punya pertimbangan sendiri untuk tidak mengejar jabatan, ini nilai moral yang kudapatkan dari Ayah, sebuah Pengabdian. Sedangkan Ibu Q seorang ibu rumah tangga, Ibu ku adalah anak tunggal dari Nenek Q, Orang tua Q tinggal di sebuah rumah pusako warisan nenek Q yang jatuh hak warisnya kepada ibu Q, hukum waris sistem Materilinial minang kabau. Dalam keluarga AQ tumbuh bersama 5 saudara Q yang lain, dua orang uni Q yang ku panggil dengan Ni kupit dan Ni Ririn dan dua orang ajo Q yang kupanggil dengan Jo kuniang dan Jo Manih serta AQ punya satu orang adik laki-laki .
Hingga kini AQ masih merekam kenangan masa masa kecil Q, pengalaman yang menyenangkan ketika diajak Ayah Q ketempat wisata di kota Padang, bermain berbagai permainan anak-anak di Stanza yang kemudian disulap menjadi Matahari Store Pasar Raya Padang dan jalan2 ke Bukittinggi mengelilingi kebun binatang, menyusuri goa jepang dan lainnya. Kemudian setelah masuk sekolah SD, AQ masih ingat ketika libur panjang sekolah, saat itu kelas dua ketika AQ diajak Ibu ke kota Medan terus ke Banda Aceh, yang saat itu keperluan Ibu adalah mengantar Jo Kuniang Q yang diterima kuliah di Universitas Syiahkuala Banda Aceh, ini perjalanan yang paling jauh ku tempuh saat itu dan kesempatan bertemu dunsanak-dunsanak Ibu, suatu silaturahami yang membuat AQ jadi tahu bahwa ibu Q punya banyak saudara jauh dari keturunan nenek nenek kami yang dalam masyarakat minang kabau disebut dunsanak saparuik. Meskipun kami jarang bertemu tetapi sambutan mereka tetap hangat dan terkesan sangat dekat.
Dalam proses belajar disekolah, dimasa SD ini sudah mulai muncul rasa suka Q pada mata pelajaran menghitung dan semasa itu juga mulai tampak kekurang tertarikan Q pada pelajaran yang berbau kesenian, yang barangkali kondisi ini yang mendorong sampai masa dewasa otak kiri Q lebih dominan dari otak kanan. Selain itu dari kelas satu sampai kelas enam AQ sering mendapat ranking, menurut Q mungkin ini yang menjadi alasan guru kelas Q untuk menunjuk Q menjadi ketua kelas hampir setiap tahunnya, dan bagi Q, ini menjadi sebuah proses alami sebagai pelatihan Leadership dalam diri Q. Saat masih kelas 4 SD AQ sudah bergabung dalam regu siaga pramuka sekolah bersama kakak-kakak kelas Q, dan saat kelas 6 AQ kembali menjadi Anggota Regu dalam kegiatan pramuka tingkat kecamatan. Selain itu saat kelas 6 ini juga AQ juga pernah punya pengalaman menjadi salah satu anggota regu Cerdas Cermat dalam perlombaan tingkat SD di kecamatan Q dalam perayaan kemerdekaan RI, dan saat itu kelompok Q sebagai perwakilan sekolah mendapat Juara. Kegiatan ekstrakurikuler Q yang lain adalah menjadi personel Drum Band Cilik Sekolah dalam Perayaan Agustusan. AQ pun pernah menjadi wakil sekolah dalam olimpiade matematika tingkat kabupaten, meskipun tidak mendapat prestasi. Selain kegiatan diatas, semasa SD ini AQ menggemari kegiatan olah raga bulutangkis, tennis meja, dan aku pernah bergabung dalam sekolah sepak Bola (SSB) hingga kelas satu SMP.
Selepas waktu sekolah di siang hari, masa kecil Q di lalui bersama teman-teman dengan bermain; main gasti, main cabur, main patok lele, main katorok mandok, dan berbagai permainan anak nagari yang membuat ku selalu rindu suasana itu hingga saat ini (karena anak sekarang sudah tidak mengenal permainan itu lagi). Ketika telah tiba sore harinya selepas bermain, kami mangaji di MDA atau juga di surau setelah Maghrib hingga datangnya waktu Isya. Disurau AQ mendapat tempaan ilmu agama, yang masih teringat adalah cara AQ diajari Baca Alquran oleh sang guru ngaji yang “galak”, jika kami tidak memperhatikan dalam pelajaran atau ketika kami tidak datang, telapak tangan kami bisa dilacuik dengan rotan, dan jika AQ tidak betah di suatu tempat ngaji, AQ minta kepada orang tua Q untuk dipindahkan ke surau atau tempat lain, alasan Q saat itu karena teman main Q banyak yang ikut ngaji di tempat lain. Saat ngaji di MDA AQ masih terkesan dengan agenda Didikan Subuh-nya setiap hari Minggu subuh, menurut Q ini adalah pola pendidikan karakter, selain baca Alquran banyak hal lain diperlajari disini, Aqidah, Akhlak, Ibadah, cerita sejarah para Nabi dan Sahabat, olah raga pagi dan kegiatan gotong royong membersihkan bangunan MDA.
Satu lagi yang sangat menyenangkan bagi Q adalah keriangan kami menjadi si “Bolang”, secara diam-diam, kami bermain ke pantai untuk cari imih, mandi lauik, karena waktu itu meskipun kami tumbuh di daerah pesisir, kami dilarang oleh orang tua untuk bermain di pantai yang jaraknya 1 km-an dari rumah kami. Barangkali saat itu orang tua mengkwatirkan keselamatan kami jika bermain ke pantai. Dan barangkali apa yang Q lalui semasa kecil ini menjadi benih tumbuhnya kesenangan Q terhadap kegiatan alam. (Bersambung…)
September 21st, 2008 at 9:18 pm
seru sekali ya perjalanannya….
klo bole kasi saran, gmn kalo dikasi keterangan untuk kata-kata daerahnya, biar qta yang dari beda daerah jg paham…skalian belajar bahasa daerah..
he..he..