Cerita Mudik…
Tuesday, October 14th, 2008Mudik lebaran,
Saya yakin Istilah ini familiar bagi masyarakat urban, sebuah tradisi setiap tahun diakhir ramadhan menjelang idul fitri, mayoritas masyarakat perkotaan menjadikan momentunm istimewa dan saat yang ditunggu bersama kelurga..
Saya sendiri sejak merantau ke kota “kembang “ tahun 2000, menjalani tradisi mudik hampir setiap tahun.. . ya dalam 8 tahun di bandung cuma sekali tidak memanfaatkan kesempatan mudik saat lebaran, memang ada sesuatu yang terasa kurang ketika menjalani suasana idul fitri sendiri di rantau orang, sepi tidak ada suasan hiruk pikuk ketika pagi mau shalat idul fitri.. tidak ada sajian sarapan lontong… bahkan untuk cari makan saja susahnya minta ampun, hampir semua warung tutup. Meskipun begitu, paling tidak ini ajang untuk melatih diri agar mampu mandiri, berkompromi dengan rasa kesepian, lebih memahami arti sebuah keluarga dan suasana kebersamaan..
26 September 2008 yang lalu bertepatan dengan 26 Ramadhan 1429 H, kami kembali menjalani mudik ke kampung halaman, Tiku sebuah nagari di sumatera Barat, perasaan yang bercampur aduk terbisik dalam hati, ada rasa senang karena akan pulang ke rumah bertemu keluargadan teman lama tapi disisi lain ada kesedihan , mengingat ini juga mengisyaratkan ramadhan tahun ini akan berakhir, akan kah ada kesempatan untuk bertemu ramadhan tahun depan? ., Untuk kali ini kami mudik menggunakan jalur darat dengan kendaran pribadi yang sengaja kami sewa selama mudik,, Berangkat dari Bandung hari jumat bada buka puasa, menuju Bogor menjembut anggota rombongan, dari Bogor langsung ke Tanggerang tepatnya BSD karena ada sisa satu lagi anggota rombongan, hingga semuanya berjumlah 6 orang. dari tol Jagorawi, menuju BSD kami sempat nyasar, keliling melewati tol, bingung karena tidak ada diantara kami yang tahu jakarta, untung bisa menghubungi pusat informasi jalan tol, dari sini lah oleh operator kami dituntun ke BSD, setelah “berpetualang” di jalan tol, akhirnya kami bisa bertemu dengan angota terakhir , setelah lengkap anggota rombongan, kami tancap gas menuju pelabuhan merak.. di merak kami janjian dengan teman yang juga dari Bandung untuk konvoi hingga sampe padang…
Kurang lebih jam dua malam, keluar tol merak menuju dermaga kapal, kami terjebak dalam kemacetan, deretan panjang mobil yang juga berniat sama dengan kami ‘mudik’ ke berbagai daerah tujuan di pulau sumatera.. konon kabarnya ada rombongan “pulang basamo” ke Batusangka 150 mobil. Hingga sahur pun harus makan nasi bungkus, memanfaatkan suasana jalan macet yang kebetulan dipinggir jalan terdapat rumah makan, kami pun mesti menikmati makan sahur didalam mobil.. bahkan masih dalam suasana macet saya sempat ketinggalan mobil sejauh kurang lebih 2 km karena turun untuk keperluan ke toilet. dan saya mesti berjuang mengejar mobil dengan berlari lari kecil, olah raga subuh..cukup capek juga ternyata… hingga mobil mesti berhenti menepi untuk menunggu saya.. kasihan deh GW… kemacetan berlanjut hingga menunggu giliran masuk kapal, bahkan saya mesti shalat subuh diatas mobil, hingga akhirnya kami berhasil masuk kapal sekitar jam 10 pagi,,, kondisi cuaca panas dalam antrian ini membuat kami harus membatalkan puasa, mengambil keringanan sebagai mushafir, tentu dengan konsekuensi mesti di qodo nantinya. sebuah perjalanan cukup megesankan berada dalam kemacetan selama 8 jam, lumayaaan …
Sambil menikmati suasana kapal penyebrangan menuju Bakauhuni melintasi laut selat sunda, suhunya yang panas, dan ayunan kapal karena gelombang ombak, ada menikamti kelelhannya dengan tidur, becanda tawa, di pijat karena memang ada jasa pijat diatas kapal (tentunya tidak gratis), hingga berembug menetapakan jalur lintas sumatera yang akan kami lalui, Lintas Timur atau Lintas Barat?
Stelah kira kira 2,5 jam menyebrang, kami mendarat di pula sumatera, pelabuhan Bakauhuni. karena telah membatalkan puasa, maka kami mencari makan siang, dan mampir di RM Siang Malam kira kira 2 jam dari Bakauhuni, untuk perjalanan mudik, ini salah satu tempat makan yang direkomendasikan, harga standar perjalanan lah porsi menu standar 20 ribu an per orang, dan rasa nya lumayan …
” wah udah hampir sebulan tidak makan siang nih” celoteh salah seorang teman ku sambil menikmati makan siangnya lagi …
… Bersambung