“Produk Mapenta adalah Manusia”

February 9th, 2008 by enra

Terinspirasi dari sebuah petuah dari salah seorang perintis  “ Mapenta tidak butuh orang yang jago naik gunung, tapi butuh orang-orang yang bertanggung jawab, cepat mengambil keputusan, …… ”. Hakekatnya didikan di Mapenta tidak sekedar untuk menjadi orang yang jago naik gunung tapi lebih penting dari itu ialah untuk menempa diri melalui jalan kegiatan mendaki gunung.

Kegiatan alam bebas diharapkan mampu melatih kita untuk tumbuh dan berkembang  menjadi sosok manusia yang berkarakter, mampu memegang prinsip  dan menjaga nilai nilai  kehidupan, ketika berada dilingkungan masyarakat ia memiliki kemampuan beradaptasi dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Manusia yang kuat secara fisik, Ketika melewati berbagai medan; berjalan menyusuri hutan berhari hari, mengarungi sungai yang deras, mencengkram batu yang keras dan tajam dalam kondisi cuaca panas, hujan atau dingin, sudah barang tentu membutuhkan  kesiapan fisik yang kuat. Suatu kekuatan yang tidak datang begitu saja, tidak seperti halnya Talent (bakat) yang katanya sudah ada dari orok.  ia terbentuk karena dilatih jauh jauh hari sebelumnya, membentuk ketahanan fisik butuh kedisiplinan dan konsistensi, sehingga setiap orang, siapa pun dia, laki atau perempuan bisa mendapatkan fisik yang kuat, asal punya kemauan untuk melatih.
Manusia yang bermental tangguh, Ketika panas terik matahari dirasakan saat mendaki tanjakan, berjalan dalam hujan menyusuri jalan setapak yang seakan akan-akan tanpa ujung, tidur di alam dalam kondisi lembab dan dingin, merupakan sebagian kecil dari kondisi yang biasa dijalani penggiat alam bebas.  Terbiasa mengalami kondisi sulit dalam keadaan yang serba terbatas tanpa fasilitas merupakan suatu proses melatih mental untuk mampu menghadapi berbagai kendala dan halangan, menjadi sebuah tantangan yang harus di atasi  dengan kegigihan dan ketabahan.
Manusia yang mengasah pikiran. “Lelah, ngantuk dan lapar harus tetap berpikir”, memberikan suatu arti bahwasanya otak harus senantiasa bekerja salam berbagai kondisi, keadaan alam tidak dapat diprediksi, badai bisa datang kapan saja, ketika terjaga atau sedang tidur pulas, sehingga penggiat alam bebas senantiasa dituntut untuk selalu siap, kelengahan dalam hitungan detik bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Manusia yang peka terhadap lingkungan sosial. Berinteraksi dengan berbagai latar belakang orang, masyarakat modern hingga masyarakat pedalaman, orang kota hingga pelosok desa,  masyarakat dengan karakter budaya Aceh hingga Papua, sekiranya bisa mendidik kita untuk mampu mehamami setiap orang, mampu membangun hubungan baik dengan orang lain, membentuk kepekaan kita dalam  menulusuri segala kelebihan dan kekurangan, kebutuhan dan keluhan orang orang disekitar kita.
Manusia yang sadar akan kebesaran Sang Khaliq. Menatap deretan pegunungan, menghirup segarnya udara hutan, mendengar merdunya  suara burung, menikmati keheningan dalam gelapnya lobang goa mestinya bisa membimbing kita kepada kesadaran dan keyakinan akan adanya eksisensi  Sang Pencipta di alam semesta ini. Dan yang terpenting dari kegiata alam bebas ini, ia diharapkan mampu membentuk diri kita menjadi manusia yang memiliki keimanan yang kuat kepada Sang Khaliq, keimanan  yang tertuang dalam pola pikir, tertancap dalam keteguhan hati dan teramalkan dalam keseharian. Wallahu’alam bishshaawab (Musafir).

“Alam Takambang jadi Guru”

February 9th, 2008 by enra

Awal awal di Mapenta, saya pernah mendapat pertanyaan  “Ngapain sih naik gunung?”.  Saya menjawab “ng’habisan duit bulanan”, jawaban ini hanyalah sebuah kalimat spontanitas dan nyeleneh. Perjalanan waktu, mulai memahami makna dari setiap perjalanan saya bahwa apa yang saya jalani dan saya lalui selama ini adalah sebuah proses untuk menempa diri, sehingga sekarang ini jawaban saya dari pertanyaan tadi “naik gunung, memanjat tebing, mengarungi sungai, menyusuri goa dan pantai adalah  untuk belajar hidup”.

Judul diatas merupakan sebuah pepatah masyarakat minang, dalam bahasa indonesia berarti Belajar dari Setiap Fenomena Alam. Sebuah inspirasi bagi kita (khususnya saya) sebagai anak muda yang masih mencari arti dan tujuan dari perjalanan hidup, sebagai Mahasiswa Pecinta Alam yang keseharian berkecimpung di alam bebas sekiranya mampu berpikir serta merenungkan dari setiap fenomena yang dilihat di alam ini, dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang dialami, menjadikan segala sesuatu yang terdapat di alam semesta sebagai guru, guru yang memberikan ilmu dan makna dari setiap langkah dalam perjalanan hidup ini.

“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi , dan pergantian malam dan siang terdapat tanda tanda (kebesaran Allah) bagi orang orang yang berakal, yaitu orang orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau sambil berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia sia, Maha Suci Engkau, lindungi kami dari azab neraka.” (Q.S. 3:190-191).

Ketika kita main ke pantai, selain cantiknya laut nan biru sudah pasti kita temukan lambaian pohon kelapa, ada yang rendah dan ada yang tinggi, semakin tinggi pohon kelapa maka semakin  kuat terpaan angin laut . semakin kuat angin yang diterimanya maka akarnya pun  akan semakin kuat pula. Selain itu pohon kelapa ini memberikan begitu banyak manfaat, dari batang pohonnya yang bisa dijadikan sebagai papan, airnya untuk diminum, sarinya untuk santan, tempurungnya sebagai alat bakar, dan hingga hampir semua bagian dari pohon kelapa ini dapat dimanfaatkan.
Kemudian di pantai kita menemukan ikan laut, ketika kita memakan ikan laut, apakah rasanya asin? Tentu tidak, padahal ikan laut hidup dilingkungan air yang asin tetapi kenapa daging ikan laut tidak ikut asin.
Apa makna dari kedua fenomena diatas?  Masing masing orang dapat merenungkannya dan memahami dari sudut pandangnya masing-masing! Wallahu’alam bish shawab. (Musafir)

Detik-Detik Rasulullah Dijemput Sakaratul Maut

November 25th, 2007 by enra
Detik-Detik Rasulullah Dijemput Sakaratul Maut
Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” keluh hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya didunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,”Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilLah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, ” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khuatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat Penghantar Wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat rasa maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku” - “Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii” - “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi… Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Sampaikan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka.
(dikutip dari milling list)

Mengendalikan Emosi

November 23rd, 2007 by enra

Emosi dan perasaan akan bergolak dikarenakan dua hal :

kegembiraan yang memuncak dan musibah yang berat. Dalam suatu hadits Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya aku melarang dua macam ucapan yang bodoh lagi tercela: keluhan tatkala mendapat nikmat dan umpatan tatkala mendapat musibah.”

Dan, Allah Berfirman,
” Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
(QS. Al- Hadid : 23)

Maka dari itulah, Rosulullah bersabda, “Sesungguhnya kesabaran itu ada pada benturan yang pertama.”

Barangsiapa mampu menguasai perasaannya dalam setiap peristiwa, baik yang memilukan dan juga yang menggembirakan, maka dialah orang yang sejatinya memiliki kekukuhan iman dan keteguhan keyakinan. Karena itu pula, ia akan memperoleh kebahagiaan dan
kenikmatan dikarenakan keberhasilannya mengalahkan nafsu. Allah s.w.t menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang senang bergembira dan berbangga diri. Namun, menurut Allah, ketika ditimpa kesusahan manusia mudah berkeluhkesah, dan ketika mendapatkan kebaikan manusia sangat kikir. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya. Itu karena merekalah orang-orang yang mampu berdiri seimbang di antara gelombang kesedihan yang keras dengan dan luapan kegembiraan yang tinggi. Dan mereka itulah yang akan senantiasa bersyukur tatkala mendapat kesenangan dan bersabar tatkala berada dalam kesusahan.

Emosi yang tak terkendali hanya akan melelahkan, menyakitkan,
dan meresahkan diri sendiri. Sebab, ketika marah, misalnya, maka
kemarahannya akan meluap dan sulit dikendalikan. Dan itu akan membuat seluruh tubuhnya gemetar, mudah memaki siapa saja, seluruh isi hatinya tertumpah ruah, nafasnya tersengal-sengal, dan ia cenderung bertindak sekehendak nafsunya. Adapun saat mengalami kegembiraan, ia menikmatinya secara berlebihan, mudah lupa diri, dan tak ingat lagi siapa dirinya.

Begitulah manusia. Ketika tidak menyukai seseorang, ia cenderung menghardik dan mencelanya. Akibatnya, seluruh kebaikan orang yang tidak ia sukai itu tampak lenyap begitu saja. Demikian pula ketika menyukai orang lain, maka orang itu akan terus ia puja dan sanjung setinggi-tingginya seolah-olah tak ada cacatnya. Dalam sebuah hadits dikatakan : “Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya, karena siapa tahu ia akan menjadi musuhmu di lain waktu, dan bencilah musuhmu itu sewajarnya, karena siapa tahu dia menjadi sahabatmu di lain waktu.”

Dalam sebuah hadits Rosulullah bersabda, “Ya Allah saya minta pada-Mu keadilan pada saat marah dan lapang dada.”

Barangsiapa mampu menguasai emosinya, mengendalikan akalnya dan menimbang segalanya dengan benar, maka ia akan melihat Kebenaran, akan tahu jalan yang lurus dan akan menemukan hakekat.

“Sesungguhnya, Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca keadilan supaya (manusia) dapat melaksanakan keadilan.(Qs. Al-Hadid:25)

Islam mengajarkan keseimbangan norma, budi pekerti, dan perilaku sebagaimana ia mengajarkan manhaj yang lurus, syariat yang diridhai, dan agama yang suci.
“Dan, demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan.”
(QS. Al-Baqarah : 143)

Keadilan merupakan tuntutan yang ideal sebagaimana ia dibutuhkan dalam penerapan hukum. Itu terjadi, karena pada dasarnya Islam dibangun di atas pondasi kebenaran dan keadilan. Yakni, benar
dalam memberitakan berita-berita Ilahi dan adil dalam menetapkan
hukum, mengucapkan perkataan, melakukan tindakan dan berbudi pekerti.

Dan,
“Telah sempurnalah kalimat Rabb-mu (al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil.”
(QS. Al-An’am:115)

(Mengutip dari buku: “La Tahzan”,DR. “Aidh al-Qarni, hal 72)

Cerita Ulang Tahun

November 15th, 2007 by enra

Beberapa hari yang lewat saya melewati hari dimana tanggal dan bulannya yang sama pada 27 tahun yang lalu  saya hadir diatas bumi Nya ini…

Barangkali sebagai episode dalam cerita kehidupan ini,

Tahun tahun belakangan ini saya merasa hari ulang tahun tidak lagi seperti ketika saya lewati diusia kanak kanak, ketika hari tersebut merupakan hari yang dinanti nanti, mengharapkan hadiah  dari ayah dan ibu, memotong kue serta bernyanyi bersama teman-teman sepermainan..

Atau ketika masa remaja, dimasa saya mendapat kado dari teman-teman sekolah, atau disiram dengan air kotor yang telah dicampur dengan berbagai bahan "antah brantah", dan saat saat harus mentraktir teman teman kelas..

Dan ketika tibalah masa sekarang ini, saya merasakan hari itu adalah hari ketika tidak berarti lagi mengharapkan hadiah,  kue atau ucapan selamat, atau mesti mentraktir teman yang dulu saya anggap sebagai bentuk tasyakur.

Hingga saya memahami dan sadar, bahwa sesungguhnya hari itu adalah bagaikan alarm, yang memberikan tanda perihal waktu,  tanda yang mengingatkan bahwa sisa waktu saya dalam kehidupan ini semakin pendek, tanda yang mengingatkan saya bahwa kematian itu semakin dekat, tanda yang mengingatkan saya bahwa waktu untuk mempersiapkan diri bertemu dengan NYA semakin singkat……..

Ketika hari itu datang mestinya saya lalui dalam bentuk evaluasi besar tahunan, memohon ampun kepada Allah atas segala kelalaian dalam hidup ini, memohon maaf dan mengharapkan  doa dari orang-orang disekitar..

Mengharapkan keberkahan dalam sisa waktu kehidupan, mempersiapkan diri untuk bertemu dengan NYA…

"Dan Allah tidak akan menunda (Kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan" Q.S. Al-Munafiqun (11)

Perdana

October 23rd, 2007 by enra

Dengan mengucapkan bismillah,,

Tanggal 24 oktober di tiku saya Launcing Blog buat teman- teman semua..

melalui blog ini saya mencoba mengembangkan kemampuan menulis, dengan harapan saya bisa berbagi pengalaman, cerita, pesan, ilmu dan pemikiran kepada orang lain disekitar saya